Teori
ini merupakan salah satu teori yang familiar ditelinga para akademisi kajian
ilmu Komunikasi, Journalism and Theories Of The Press. Cikal bakal dari teori
ini justru bukan dari orang-orang dengan latar belakang Ilmu Komunikasi,
melainkan mereka dengan latar belakang hukum, filusuf, dan lain-lain. Secara
pasti dalam teori ini ada 4 bahasan mengenai teori pers yang dituangkan dalam
sebuah buku “The Four Theories Of The Press” oleh Fred S. Siebert, Theodore
Peterson dan Wilbur Schramm. Sehingga, ada 4 teori pers, yaitu:
1. Pers
Otoritarian. Sebuah teori pers yang menjelaskan bahwa media atau pers bukan
untuk mengkontrol pemerintah, melainkan untuk mencapai tujuan negara, tidak
mengkritik dan juga tidak memicu pemberontakan. Teori ini muncul untuk mencapai
tujuan negara, karena anggapan yang muncul adalah untuk mencapai tujuan negara,
maka dibutuhkan satu suara yang sama.
2. Pers
Libertarian. Teori ini muncul untuk mengkoreksi teori sebelumnya. Pendapat yang
muncul pada teori ini adalah bahwa manusia adalah makhluk rasional, sehingga
jika mereka dikekang maka manusia tidak akan bisa berkembang. Selain itu, teori
pers otoritarian dianggap sudah tidak cocok lagi untuk kehidupan dan
perkembangan zaman. Teori ini menjelaskan bahwa media massa atau pers bebas
untuk dimiliki ole siapa-pun dan siapa-pun bebas melakukan kegiatan-kegiatan
pers.
3. Teori
Tanggungjawab sosial. Teori ini hadir untuk melengkapi teori-teori sebelumnya.
Teori ini menjelaskan bahwa kebebasan pers merupakan kebebasan yang tetap
berada dalam norma-norma masyarakat yang berlaku. Ketika membentuk, mengolah,
menyiarkan sebuah berita harus tetap berdasarkan norma-norma dan etik yang
berlaku. Sehingga, lebih lanjut kita mengenal yang namanya Kode Etik
Jurnalistik. Frekuensi yang ada di media atau pers merupakan frekuensi milik
publik.
4. Teori
Pers Soviet Komunis. Sebuah teori pers yang menyatakan bahwa media massa atau
pers bebas melakukan seluruh aktivitasnya dan bebas memiliki media massa atau per
situ sendiri, asalkan untuk kepentingan masyarakat. Hal ini dikarenakan, di
negara soviet masyarakat memegang kekuasan tertinggi. Sehingga teori ini muncul
untuk menyuarakan keinginan negara tanpa kelas masyarakat dan menyuarakan pendapat
& keinginan kaum proletar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar